[Sneak Peek] Pelukan untuk Hati

Dear, pembaca. “Anak Pengantar Koran dan Gambar Seharga Lima Belas Ribu” merupakan satu dari 35 cerpen yang dapat kalian temui dalam buku Pelukan Untuk Hati. Telah terbit 🙂

 

Anak Pengantar Koran dan Gambar Seharga Lima Belas Ribu

Begitu bel pintu rumahku berbunyi, aku sudah tahu siapa tamuku itu meskipun belum membukanya. Ini masih pagi, anak-anak dan suamiku sudah berangkat sekolah dan ke kantor. Dan pada jam-jam beginilah anak kecil pengantar koran itu akan datang membawakan berita hari ini. Kutinggalkan sejenak roti dan pisau pengoles selai itu di meja makan, lalu beranjak untuk membukakan pintu.

Begitu pintu itu kubuka, tampaklah seorang anak laki-laki kecil dengan topi birunya. Rambutnya panjang mencapai bahu dan tidak terawat, kulitnya gelap karena terpanggang sinar matahari. Ia tersenyum saat melihatku muncul di pintu. Sepeda bututnya terparkir manis di belakang, bersama dengan tumpukan koran di sana. Anak kecil itu menyodorkan koran hari ini kepadaku.

“Silakan Nyonya!” ujarnya ceria. Aku mengeluarkan sebuah permen dari saku bajuku sebagai hadiah untuknya. Ini kebiasaan yang selalu kulakukan untuk menyenangkan hatinya. Lagipula, Janice dan Alice tidak akan mampu menghabiskan semua permen yang dibelikan Ayah mereka.

“Terima kasih!” katanya saat menerima permennya.

“Terima kasih kembali,” kataku membalas senyumnya, kemudian bergegas masuk ke rumah.

“Nyonya, tunggu dulu!” panggilnya begitu aku hendak menutup pintu rumah. Aku menoleh kembali dan menemukannya tengah mencoba mengeluarkan selembar kertas dari sakunya. Ah, meskipun kertas itu sudah lebih kucel dan lusuh daripada saat pertama ia memperlihatkannya, aku tetap bisa langsung mengenalinya. Kertas itu berisi gambar seorang wanita dan seorang anak kecil tengah bergandengan tangan. Aku tidak tahu gambar siapa itu, dan siapa yang menjadi objek di dalam gambarnya. Tapi jika dilihat dari goresannya, aku sangat yakin itu adalah gambar yang dibuatnya sendiri. Gambar yang mampu dibuat oleh seorang anak berusia 10 tahun, sama dengan umur Janice.

“Apa Anda berniat untuk membelinya? Harganya hanya lima belas ribu,” tanyanya bersemangat, sama seperti hari-hari sebelumnya.

Aku mengggeleng pelan. “Maaf, tapi tidak.”

“Baiklah, tidak apa. Terima kasih!” ujarnya, kemudian melipat kembali kertas itu dan bergegas mengambil sepedanya yang terparkir untuk mengantarkan koran ke rumah berikutnya.

Dalam hati aku bertanya-tanya dan jadi penasaran. Untuk apa dia menjual gambar itu? Ia sudah bertanya selama sepekan belakangan ini, dan kelihatannya belum menyerah sama sekali. Jadi, begitu keesokan harinya ia kembali datang mengantar korannya, aku menanti ia mengeluarkan kertas itu lagi dan aku akan bertanya padanya. Namun ternyata hari ini ia tidak lagi bertanya padaku. Karena penasaran, sebelum ia sempat mengayuh sepedanya dan pergi meninggalkan rumahku, aku memanggilnya kembali dan bertanya padanya.

“Dik, kenapa hari ini kau tidak menawariku untuk membeli gambarmu lagi?” tanyaku. Anak kecil itu tersenyum dan menjawab dengan penuh semangat.

“Maaf Nyonya, gambar itu sudah dibeli oleh Ibu tetangga sebelah,” ujarnya yang membuatku terperangah. Ada juga orang yang mau membeli gambar sejelek itu? Karena penasaran, aku pun bertanya padanya lagi.

“Apa yang kau katakan padanya sampai Ibu itu mau membeli gambarmu?”

“Aku tidak mengatakan apa-apa padanya, hanya bertanya apakah ia menyukai gambar berisi aku dan ibuku itu. Awalnya ia juga menolak seperti Anda. Tapi ia kemudian bertanya, untuk apa aku menjual gambar itu. Lalu aku jawab saja apa adanya. Aku bilang padanya aku menjual gambar itu untuk mencari dana. Aku ingin membelikan setangkai mawar sebagai hadiah valentine untuk Ibuku. Aku sudah bertanya pada Ibu penjual bunga di sudut jalan itu, dan katanya bunga mawar pada hari Valentine berharga lima belas ribu,” ujarnya yang membuatku terperangah. Jadi itu alasannya ia ingin menjual gambar itu seharga lima belas ribu rupiah? Betapa polosnya anak kecil ini.

“Kalau begitu saya pamit dulu Nyonya,” katanya mengakhiri ceritanya.

“Tunggu dulu Dik,” ujarku menahan langkahnya. “Tunggu sebentar,” kataku kemudian beranjak masuk ke dalam rumah. Setelah mengambil uang sejumlah lima puluh ribu, aku bergegas keluar menemuinya lagi.

“Nah ini, untukmu,” kataku menyodorkan uang itu padanya.

“Tapi Nyonya, maaf. Gambarku itu sudah terjual. Lagipula, gambarku hanya seharga lima belas ribu,” katanya polos. Aku menggeleng pelan sambil tersenyum padanya.

“Tidak, aku tidak butuh gambarmu itu. Ini kuberikan padamu, belikanlah sebuah pita cantik untuk kau ikatkan di mawarmu itu. Sisanya, pakailah untuk membelikan barang yang kau suka.”

“Benarkah Nyonya?” ujarnya dengan mata berbinar cerah. Aku mengangguk cepat, ikut merasa senang karena melihat anak itu gembira. Kata-kata yang ia ucapkan berikutnya semakin membuatku kagum padanya.

Sambil tersenyum ceria anak pengantar koran itu berjanji padaku, “Terima kasih Nyonya. Anda baik sekali. Tapi saya janji, saya tidak akan mengambil uang Nyonya begitu saja. Saya akan membuatkan sebuah gambar untuk Anda, dan gambar itu akan saya buat sebagus mungkin, hingga pantas untuk dihargai sebesar lima puluh ribu rupiah!”

***

Cover PELUKAN UNTUK HATI

Tentang Pelukan untuk Hati: irinsintriana.wordpress.com/2014/02/21/tentang-pelukan-untuk-hati/

Advertisements

4 thoughts on “[Sneak Peek] Pelukan untuk Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s